Beranda | Artikel
Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 5): Keimanan yang Benar kepada Allah dan Rasul-Nya
8 jam lalu

Ketiga, keimanan yang benar kepada Allah dan Rasul-Nya

Di antara ciri manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya dalam masalah iman adalah meyakini bahwa Allah memiliki hak yang wajib ditunaikan oleh setiap hamba-Nya, yaitu beribadah hanya kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dan meyakini risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenabiannya, dicintai, ditaati, dan dijadikan teladan dalam menjalankan agama.

Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

الله حـــــــــــــــــــق لـــــــــــــــــــــيس لعبــــــــــــــــــــــده        ولعبـــــــــــــــده حــــــــــــــــق همــــــــــــــــا حقــــــــــــــــان
لا تجعــــــل الحقـــــين حقـــــــاً واحــــــداً         مـــــــــــــــن غـــــــــــــــير تميـــــــــــــــيز ولا فرقـــــــــــــان

Allah memiliki hak yang wajib dipenuhi oleh hamba-Nya,

dan hamba (Rasul)-Nya juga memiliki hak; keduanya memiliki hak.

Janganlah engkau menjadikan kedua hak itu sebagai satu hak,

Tanpa membedakan dan memisahkannya.

Beliau rahimahullah mengingatkan bahwa hak Allah ‘Azza wa Jalla dan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dua perkara yang berbeda. Keduanya wajib dipenuhi, tetapi tidak boleh disamakan atau dicampuradukkan. Hak Allah Azza wa Jalla adalah menerima seluruh bentuk ibadah, sedangkan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ditaati dan diikuti sunah-sunahnya.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa iman adalah ucapan dengan lisan, keyakinan dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.

Inilah definisi iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Iman bukan sekadar ucapan di lisan saja, karena yang seperti itu adalah akidahnya orang-orang munafik. Mereka mengucapkan dengan lisan apa yang tidak ada dalam hati mereka. Mereka menampakkan iman, tetapi menyembunyikan kekafiran. Mereka berada pada tingkatan paling bawah di dalam neraka dan tidak ada seorang penolong pun bagi mereka. Mereka juga bersaksi dengan lisan mereka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah, tetapi mengingkarinya di dalam hati mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ، اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah.’ Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar utusan-Nya, dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi manusia dari jalan Allah. Sungguh buruk apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 1–2)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga tidak mengatakan bahwa iman hanyalah keyakinan dalam hati tanpa diucapkan dengan lisan dan tanpa diamalkan dengan anggota badan, sebagaimana pendapat Murji’ah. Mereka berpendapat bahwa iman hanyalah pembenaran dalam hati saja, meskipun seseorang tidak mengucapkannya dengan lisan dan tidak mengamalkannya dengan anggota badan.

Demikian juga keadaan orang-orang musyrik. Mereka mengetahui bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rasulullah dan meyakini hal itu dalam hati mereka. Orang-orang Yahudi dan Nasrani juga meyakini hal tersebut.

Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui hakikat mereka,

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

“Sungguh Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu membuatmu bersedih. Sebenarnya mereka bukan mendustakanmu, tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An’am: 33)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengatakan yang demikian tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani,

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ، الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengenalnya (Muhammad) sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Namun, sungguh sebagian dari mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah: 146–147)

Iman bukan sekadar pembenaran dalam hati tanpa pengucapan dengan lisan dan tanpa disertai amalan, sebagaimana akidah Murji’ah. Seandainya hal itu benar, maka orang-orang musyrik, Yahudi, dan Nasrani termasuk orang-orang yang beriman. Hal ini menunjukkan batilnya akidah orang-orang Murji’ah.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa iman dapat bertambah karena ketaatan. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada beberapa ayat berikut,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada orang-orang yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ، وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ

“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya karena (turunnya) surah ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surah itu menambah iman mereka dan mereka bergembira. Sedangkan orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka surah itu menambah kekotoran di atas kekotoran mereka, dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 124–125)

وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا

“Agar orang-orang yang beriman semakin bertambah imannya.” (QS. Al-Muddatstsir: 31)

Selain itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga meyakini bahwa iman dapat berkurang karena kemaksiatan dan dosa. Bahkan, iman dapat terus melemah hingga tak tersisa kecuali seberat zarrah atau sebesar biji sawi saja.

Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim no. 49)

Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla,

هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ

“Pada hari itu, mereka lebih dekat kepada kekafiran daripada kepada keimanan.” (QS. Ali ‘Imran: 167)

Ayat ini menunjukkan bahwa tingkat keimanan seseorang dapat berbeda-beda. Seseorang bisa berada pada kondisi yang sangat lemah imannya sehingga ia lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan.

Hal ini juga diperkuat oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الإيمان بضع وسبعون أو بضع وستون شعبة، فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان

“Iman terdiri atas lebih dari tujuh puluh cabang, atau lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang iman.” (HR. Muslim no. 35)

Hadis ini menunjukkan bahwa iman memiliki banyak tingkatan. Ada cabang iman yang paling utama, ada pula cabang yang berada pada tingkatan paling rendah. Dengan demikian, menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tingkat keimanan seseorang bisa berbeda-beda, dan keimanan dapat bertambah dan berkurang sesuai dengan ketaatan maupun kemaksiatan yang dilakukan oleh seseorang.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 4

***

Penulis: Chrisna Tri Hartadi

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 22–25.


Artikel asli: https://muslim.or.id/116023-prinsip-prinsip-manhaj-ahlus-sunnah-wal-jamaah-bag-5.html